Dolar AS Menguat Tertahan, Harga Emas dan Perak Tertekan di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Sikap Hawkish The Fed


Ady Phangestu
-
July 19, 2026
Dolar AS Menguat Tertahan, Harga Emas dan Perak Tertekan di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Sikap Hawkish The Fed

Indeks dolar AS (DXY) ditutup relatif stabil pada perdagangan Jumat, meski sempat mendapat dukungan dari lonjakan harga minyak mentah WTI yang melonjak sekitar 4% dalam sehari. Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi, sehingga membuka peluang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat; faktor yang secara historis mendukung penguatan dolar. Aksi jual di pasar saham turut mendorong permintaan dolar sebagai aset likuid dan aman.

Namun, penguatan dolar tidak bertahan lama. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS (T-note) melemahkan daya tarik dolar dari sisi selisih suku bunga, sehingga indeks dolar akhirnya melepas sebagian besar kenaikannya menjelang penutupan perdagangan.

Data Ekonomi AS: Sinyal Campuran

Rilis data ekonomi Amerika Serikat pada Jumat menunjukkan hasil yang beragam:

  • Housing starts (pembangunan rumah baru) bulan Juni melonjak signifikan, jauh melampaui ekspektasi pasar.
  • Building permits (izin konstruksi), yang menjadi indikator aktivitas pembangunan ke depan, justru turun dan berada di bawah proyeksi analis.
  • Produksi manufaktur bulan Juni stagnan, tidak bergerak dari bulan sebelumnya dan sedikit meleset dari perkiraan kenaikan tipis.
  • Indeks harga impor (di luar minyak) naik lebih tinggi dari perkiraan, mengindikasikan tekanan inflasi dari sisi impor masih ada.

Sementara itu, indeks sentimen konsumen University of Michigan untuk Juli melompat ke level tertinggi dalam lima bulan, jauh di atas ekspektasi. Menariknya, ekspektasi inflasi 1 tahun dari survei yang sama justru turun, menandakan konsumen mulai lebih optimistis terhadap prospek harga ke depan. Ekspektasi inflasi jangka panjang (5-10 tahun) relatif stabil sesuai perkiraan.

Pernyataan Hawkish dari Pejabat The Fed

Presiden Federal Reserve Cleveland turut memberikan pernyataan yang cenderung hawkish, menegaskan bahwa inflasi yang masih tinggi menjadi perhatian utamanya saat ini, di tengah belanja konsumen yang tetap kuat dan tingkat pengangguran yang rendah. Pernyataan semacam ini biasanya memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sebuah sentimen yang mendukung dolar namun menekan aset seperti emas dan perak.

Meski begitu, pasar swap saat ini hanya memperkirakan peluang sekitar 14% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC mendatang akhir Juli. Namun demikian, data futures suku bunga menunjukkan lebih dari dua pertiga pelaku pasar memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun, meskipun keputusan bulan ini besar kemungkinan tetap menahan suku bunga.

Ketegangan Geopolitik AS-Iran Mendorong Harga Minyak

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga minyak mentah. AS dilaporkan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran selama enam hari berturut-turut, menyasar fasilitas pengawasan pesisir, sistem pertahanan udara, infrastruktur logistik militer, dan aset maritim. Sebagai balasan, Iran menyerang sejumlah pangkalan AS di kawasan Kuwait, Yordania, dan Bahrain.

Otoritas Kuwait melaporkan kerusakan pada fasilitas desalinasi air dan pembangkit listrik akibat serangan tersebut, sementara puluhan drone yang menyasar institusi vital berhasil dicegat oleh militer setempat. Presiden AS menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan tekanan militer hingga Iran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan membuka kembali jalur pelayaran tersebut.

Ketegangan geopolitik semacam ini secara langsung mendorong harga minyak lebih tinggi, yang pada gilirannya meningkatkan ekspektasi inflasi global dan tekanan bagi bank sentral untuk bersikap lebih hati-hati terhadap kebijakan moneter.

Imbal Hasil Obligasi AS Turun Signifikan

Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke kisaran 4,5%, jauh dari level tertinggi hampir dua bulan yang sempat menyentuh angka lebih tinggi pada pertengahan Juli. Penurunan ini terjadi seiring melunaknya data inflasi serta menurunnya selera risiko investor.

Data inflasi konsumen maupun produsen di bulan Juni sama-sama menunjukkan tren penurunan, sementara ekspektasi inflasi dari survei Michigan juga melemah untuk bulan kedua berturut-turut. Kondisi ini mengindikasikan bahwa penurunan biaya bahan bakar grosir mulai merambat ke perekonomian secara luas.

Ketidakpastian geopolitik turut bertambah setelah adanya pernyataan Presiden AS terkait dugaan campur tangan pihak asing dalam pemilu presiden 2020, yang berpotensi mengganggu hubungan dagang yang selama ini relatif membaik pasca kenaikan tarif tahun sebelumnya. Meski demikian, risiko inflasi tetap membayangi karena banyak kapal dagang menghindari Selat Hormuz akibat konflik militer yang masih berlangsung.

Emas dan Perak: Antara Tekanan Jual dan Potensi Rebound

Pada perdagangan Jumat, harga emas dan perak sempat bergerak melemah di awal sesi; emas mencatatkan level terendah dalam 2,5 minggu terakhir, sementara perak jatuh ke titik terendah dalam hampir 7,75 bulan. Lonjakan harga minyak sebesar 4% turut menekan logam mulia karena meningkatkan ekspektasi inflasi global yang berpotensi mendorong bank sentral dunia mengetatkan kebijakan moneter.

Pernyataan hawkish dari pejabat Federal Reserve Cleveland turut menambah tekanan bagi emas dan perak, mengingat fokus utama kebijakan moneter AS saat ini masih tertuju pada pengendalian inflasi yang persisten.

Namun demikian, logam mulia berhasil membalikkan arah dan ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat. Pelemahan dolar di sesi sore memicu aksi short covering, sementara penurunan imbal hasil obligasi global turut memberikan dukungan tambahan bagi harga emas dan perak.

Analisis Teknikal Emas: Tren Bearish Masih Mendominasi

Secara teknikal, harga emas saat ini berada dalam tren bearish karena bergerak di bawah seluruh garis EMA utama dan tertahan oleh area resistance di kisaran 4.100. Tekanan jual ini dipicu oleh beberapa faktor:

  1. Penguatan dolar AS
  2. Kebijakan suku bunga The Fed yang masih ketat
  3. Berkurangnya permintaan aset safe-haven akibat mereda sementara ketegangan geopolitik

Meski begitu, muncul sinyal divergensi positif tipis pada indikator RSI, yang mengindikasikan potensi pelemahan momentum jual. Saat ini harga emas berada dalam fase konsolidasi kritis di dekat level support utama 3.943. Jika level ini tertembus ke bawah, berpotensi memicu kelanjutan tren penurunan menuju area 3.900.

Arus Dana ETF Masih Tertekan

Data kepemilikan dana (fund holdings) menunjukkan tren likuidasi yang masih berlangsung:

  • Kepemilikan emas pada ETF turun ke level terendah dalam 9,5 bulan, setelah sebelumnya mencapai puncak tertinggi dalam 3,5 tahun pada akhir Februari.
  • Kepemilikan perak pada ETF juga anjlok ke level terendah dalam 11,75 bulan, jauh dari puncak 3,5 tahun yang tercatat pada akhir Desember.

Tren likuidasi dana ini menjadi salah satu faktor bearish jangka menengah bagi harga logam mulia.

Permintaan Bank Sentral Tetap Kuat

Di sisi lain, permintaan emas dari bank sentral tetap menjadi faktor penopang harga jangka panjang. Bank sentral China (People's Bank of China/PBOC) dilaporkan kembali menambah cadangan emasnya sebesar 480.000 troy ounce pada Juni, menjadikan bulan tersebut sebagai bulan ke-20 berturut-turut PBOC secara konsisten menambah cadangan emasnya. Konsistensi akumulasi emas oleh bank sentral seperti ini kerap dipandang sebagai sinyal positif jangka panjang bagi pasar logam mulia, meskipun tekanan jangka pendek dari sisi dolar dan suku bunga masih membayangi.

Kesimpulan Strategis

Pasar keuangan global saat ini berada dalam persimpangan antara tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak dan ketegangan geopolitik AS-Iran di satu sisi, dengan sinyal pelemahan ekonomi serta penurunan yield obligasi di sisi lain. Dolar AS mendapat dukungan sementara dari faktor inflasi dan sikap hawkish The Fed, namun penurunan yield membatasi penguatannya.

Bagi emas dan perak, tren teknikal jangka pendek masih menunjukkan tekanan bearish, dengan level support kunci di 3.942 untuk emas menjadi titik krusial yang perlu diperhatikan pelaku pasar. Namun, permintaan struktural dari bank sentral; khususnya China serta potensi pembalikan arah dolar dan yield obligasi tetap membuka peluang rebound bagi logam mulia dalam beberapa waktu ke depan.

Tags: dxy gold silver usoil
Berdagang Sekarang
Syarat dan Ketentuan Berlaku

Klik disini untuk mengakses Kalender Ekonomi

Disclaimer: Materi ini disediakan sebagai komunikasi marketing umum untuk tujuan informasi saja dan bukan merupakan penelitian investasi independen. Tidak ada satu pun dalam komunikasi ini yang berisi, atau harus dianggap berisi, saran investasi atau rekomendasi investasi atau permintaan untuk tujuan membeli atau menjual instrumen keuangan apa pun. Semua informasi yang diberikan dikumpulkan dari sumber-sumber yang memiliki reputasi baik dan informasi apa pun yang mengandung indikasi kinerja masa lalu bukan merupakan jaminan atau indikator yang dapat diandalkan untuk kinerja di masa depan. Pengguna mengakui bahwa setiap investasi dalam Produk dengan Leverage memiliki tingkat ketidakpastian tertentu dan bahwa setiap investasi semacam ini melibatkan risiko tingkat tinggi yang menjadi tanggung jawab dan kewajiban pengguna. Kami tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari investasi yang dilakukan berdasarkan informasi yang diberikan dalam komunikasi ini. Komunikasi ini tidak boleh direproduksi atau didistribusikan lebih lanjut tanpa izin tertulis dari kami.

Article Author

Ady Phangestu

Penulis buku teknikal analisa valuta asing, praktisi dan pengajar valuta asing yang sudah mengadakan seminar diberbagai wilayah Indonesia bersama dengan hfmarkets. Berkiprah didunia transaksi selama 12 tahun. Saat ini masih aktif sebagai penulis dan memberikan pembelajaran forex dan pengenalan produk finansial. Pelatihan dasar-dasar valuta asing asing secara offline maupun online.

Acara Mendatang